Minggu, 02 Oktober 2011

ia bukan Ia

bukankah ia bukan Ia yang mengetahui segala jenis perasaan. ia juga bukan Ia yang mengerti cara mengartikan gerik. ia hanya sebuah sosok yang meraba raba bersama bayangannya, mencoba meniti jalan kecildimana sama sekali tidak ditawarkan satupun pilihan. tidak untuk menyeberang, tidak untuk diam di tempat,tidak juga untuk berjalan lurus kesamping. namun ia memilih pilihan yang tak ada itu dengan diam di tempat, ia hanya terlalu takut melompat dan tidak cukup berani untuk terus berjalan. maka ia diam saja di tempatnya.ia bukanlah Ia yang mampu membekukan hati, karena hatinya yang lemah itu tidak cukup kuat bahkan untuk ia bagi, ia biarkan si hati berjalan jalan di taman menikmati pagi, ia biarkan si hati murung di jendela menilik petang, ia biarkan si hati berubah tua dan mati, ia biarkan si hati merakit sepi yang begitu dalam, ia biarkan si hati menelan air mata yang asin, ia biarkan hatinya berubah kosong.di malam hari saat sunyi mengusai bunyi bunyian, ia mendengar jantungnya berdetak di suatu tempat yang bukan di dadanya.