Senin, 30 Agustus 2010

aku, dia, sajak

kau bilang kau ingin menikahiku di purnama bulan nanti
aku menjadi begitu takut bulan ini akan segera berakhir,
lima hari dari sekarang aku takut tidak mampu lagi ingat dimana sajak sajak yang sering ku serak itu kini tinggal, apa mereka baik-baik. apa mereka cukup makan. atau mereka sepertiku sedang berpuasa?
menunaikan ibadah puisi sungguh lebih sulit dari hanya menahan makan atau menahan menegak anggur. fajar dan petang berjarak begitu jauh. tidak hanya tak mampu bersilangan, mereka seperti dua pasang orangtua yang memilih bercerai karena lupa kenapa pernah bersama.

aku ingin mengenakan gaun pengantin yang dirajut dengan sejuta puisi. renda nya akan menembang pilu tentang aku dan kamu. mereka yang tidak memiliki airmata itu mungkin berharap bisa memaksa mata mereka yang juga tidak ada menangis. aku menjadi terlalu lelah dan rebah di dada mu, tertidur dan terpengkur di pangkuanmu yang hangat, karena itu tangis mereka akan semakin nyaring. dekapan mu tetap dan lebih erat. aku tetap dan lebih lelap.

malam ini aku tertidur berselimut sajak. kami berdekapan. berpelukan. berciuman.
aku sangat dan akan merindukanmu, kata sajak.

Minggu, 29 Agustus 2010

menyulam spasi

mungkin posisi nya sekarang aku terlalu jatuh cinta dengan cintamu yang bukan untuk ku. cintamu yang untuknya itu terlalu besar melebihi cinta seperti apapun yang bisa kuberikan padamu dan melebihinya. karena itulah kini aku berubah menjadi begitu mencintai cintamu itu. aku tidak akan minta maaf padamu ataupun padanya tentang ini karena hanya dengan begini mungkin cintaku bisa belajar bagaimana mencintaimu tanpa mencintai cinta nya padamu.

baiklah cukup dengan begitu banyak kata cinta. kita ganti saja cinta itu menjadi benci.

aku harap kau tidak tau. tadi nya dan sampai kini aku begitu memelihara benci yang ternyata tak terhitung lagi banyaknya, lalu mudah saja ia hinggap di dirimu. di matamu. dan kalau bisa di jantungmu, tapi tenang saja aku tau ini pasti hanya fantasiku saja. benci itu awalnya mendarat di bekas-bekas sajak hitam putih di buku catatanmu. oh tentu, aku tentu tau, itu sajak untuknya. namun sajak yang tak berarti baginya itu kupungut satu satu. lalu kusulam menjadi sebuah tali panjang dimana ia waktu itu berusaha bunuh diri. tidak berhasil tentu. kalau berhasil mungkin aku juga ingin melakukan hal yang sama. karena setelah mencuri tali milik ku dan bunuh diri, kalian menjadi begitu senang mengatakan kata cinta. oh maaf, benci.

dan setelah itu kau tidak lagi melukis sajak. tidak lagi memenuhi garis buku mu dengan puisi. mungkin itu sudah tak perlu lagi karena kau tidak membutuhkan, atau kini kau sangat membenci, dalam arti sebenarnya, sajak sajak kurang ajar itu yang malah berusaha membunuh majikannya, cintamu maksudku.

kini aku sedang menyulam tali baru. dari bait bait kosong dan spasi spasi yang tidak memisahkan apa-apa dan yang tidak memulai apa-apa. masih dari buku catatanmu.

Kamis, 26 Agustus 2010

#2

aku ingin menghabiskan waktu sebentar
membentuk dialog singkat antara aku dan urat biru yang menonjol di tangan kiriku,
tangan kanan sedang kupakai memegang benda lain

aku berpikir untuk mengelus sedikit urat birumu,kataku
dia tertawa. keras sekali. tambah keras.
kini seisi ruang dipenuhi suaranya
_sudah diam!
kau tak perlu mengelusnya
dari lama aku telah memakannya dari dalam
kau tak pernah tau.
_kenapa kau memakannya?
alasan yang sama mungkin kenapa kau ingin mengelusku.

pisau di tangan kananku jatuh
pingsan sepertinya

Sabtu, 21 Agustus 2010

#1

aku dan temanku sama-sama tidak pandai mengartikan cinta,
temanku itu merasa tidak lagi dicintai orang
sedang aku merasa tidak lagi mencintai orang.

mungkin cinta itu bukan kata benda, bukan kata sifat,
bukan kata kerja

mungkin ia hanya kata mereka ada.

Senin, 09 Agustus 2010

....

maaf, kemarin tidak sengaja
cintamu terjatuh,
telah kupungut dan kuletak
disini.
kau tertawa melihat hatiku
jadi dua.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Selasa, 03 Agustus 2010

sajak puisi

:Undangan pesta
Kemarin aku undang puisi
Datang ke pesta perkawinan, dia berjalan
Digandeng sajak yang tampan
Ditinggalnya aku,
Menegak anggur sendiri

:Surat kencan
Hari ni kuselip amplop merah jambu
Di balik puisi si cinta
Wajahnya memerah
“pukul senja hari ini”
Dia pasti datang

Puisi dan sajak menikah malam itu
Menceraikanku
Mungkin karena surat tak bernamaku itu.