Sabtu, 21 Agustus 2010

#1

aku dan temanku sama-sama tidak pandai mengartikan cinta,
temanku itu merasa tidak lagi dicintai orang
sedang aku merasa tidak lagi mencintai orang.

mungkin cinta itu bukan kata benda, bukan kata sifat,
bukan kata kerja

mungkin ia hanya kata mereka ada.

Senin, 09 Agustus 2010

....

maaf, kemarin tidak sengaja
cintamu terjatuh,
telah kupungut dan kuletak
disini.
kau tertawa melihat hatiku
jadi dua.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Selasa, 03 Agustus 2010

sajak puisi

:Undangan pesta
Kemarin aku undang puisi
Datang ke pesta perkawinan, dia berjalan
Digandeng sajak yang tampan
Ditinggalnya aku,
Menegak anggur sendiri

:Surat kencan
Hari ni kuselip amplop merah jambu
Di balik puisi si cinta
Wajahnya memerah
“pukul senja hari ini”
Dia pasti datang

Puisi dan sajak menikah malam itu
Menceraikanku
Mungkin karena surat tak bernamaku itu.

Rabu, 07 Juli 2010

puisi-puisi di KACANG edisi juli

Aku seorang penyair
:joko pinurbo


Aku seorang penyair, tuan
Bolehkah aku berpuisi?

jangan!
Berisik. Istri saya sedang tidur.




Hujan

seperti ada yang merangkak di atas sana
memapah tangis mencari hilir
__mana merpatiku?
dirabanya permadani
dikecupnya ilalang
mencambuk ibu hulu,
__mana merpatiku?




Air Matamu
:Wiji Thukul


aku ingin sejenak kehilangan otakku
sekedar ingin tau apa aku masih bisa menangisi airmatamu
saat larut kemarin ku dengar kabar api tentang ziarahmu di
kuburan tua
makam pertama yang mengheningkan rumah bambumu
tulang pertama yang patah menyisakan amis di kasurmu
masihkah ingin kau teriaki: lawan!
di depan hidung pesek bayi yang langsung tergadai hutang
masihkah ingin kau maki: jarah!
di samping gadis muda tanpa celana yang telah kehilangan
malu
apa masih ingin kau hardik: perang!
di tengah bara yang tak jua kunjung hitam

Senin, 07 Juni 2010

bahasa cinta

Ini cinta pertama, kalau memang itu istilah yang pas untuk perasaan yang belum mau kehilanganmu. Suatu saat, ketika meninggalkanmu tidak sesakit jika kehilanganmu sekarang, siapa tau namanya telah berubah menjadi cinta kedua, ketiga, keempat, atau sebenarnya saat itu ia masih disebut cinta monyet. Tapi untuk sekarang kita sepakati saja ini adalah cinta pertama. Tentang aku, untukmu.

Kau tau, dulu kau pernah marah-marah karena ketinggalan bus dan mesti menunggu lebih dari dua jam untuk bus berikutnya. Kau tidak terima dengan waktu yang terbuang percuma. Kau mengutuki setiap kemungkinan penyebabmu ketinggalan bus hari itu. Tapi tentu saja tidak dengan teriak-teriak seperti orang gila. Kau hanya diam menggerutu bersama dirimu seorang. Karena begitulah kau. Begitu terlihat tenang, begitu terlihat sabar. Aku juga belum terlalu mengerti apa kata terlihat pas untukmu, sepertinya ketenangan dan kesabaran itu lah yang memilihmu. Seperti gaun yang pas untuk pesta dansa. Seperti sepatu kaca yang memilih cinderella.

Aku mulai meragukanmu sekarang, untuk menunggu yang membuatmu begitu kesal. Menunggu bagiku menghadiahkan pada waktu agar sebentar saja ia dapat menikmatiku. Menikmati pikiranku yang begitu sederhana, kalau tak mau dibilang tak berguna. Dan aku mampu menikmati skenario-skenario kecil tentangmu. Bagaimana rambutmu terurai. Bagaimana sabit muncul di bibirmu saat kau tersenyum. Bagaimana mata yang berkilau mu memantul di mataku hingga dibuatnya ia sayu. Barulah saat dari ujung jalan kau berjalan tergesa menujuku, skenario itu hilang, lenyap sama sekali, berubah menjadimu seutuhnya. Berubah menjadimu yang lebih sempurna.

****

“bagaimana cara mu mendefinisikan cinta?”
“aku tidak pernah mencoba mendefinisikannya. Entah kata itu ada atau tidak. Entah ia malah di atas segalanya atau tidak. Aku tidak tau.”
“kenapa tidak kau cari tau?”
“takut. Aku takut ketika mengetahuinya mungkin aku akan menyadari ketidakadaanku sendiri.”
“maksudnya?”
“apa kau mendefinisikan cinta?”
“aku membencinya”
“kenapa?”
“aku juga tidak tau”
Aku tidak tau, malam itu ternyata kita memikirkan hal yang sama dalam diam. Ketika aku sendiri tidak pernah tau apa itu cinta, dan kau yang tidak menyukainya. Lalu kita apa? Sepasang kekasih yang berciuman saat bibir kita sedang kering. Atau sepasang manusia yang saling menelan purnama saat ia sendiri merasa kesepian.

****

Jumat, 27 November 2009

Tajam

Aku menutup satu hinaan merah dengan kecut sabit di ujung bibir. Bukan, bukan untuk menghilangkan penat.
Tapi untuk menambal goresan yang kemarin tak sengaja kuukir.
Tajam, pasti.
Bukan pilihan
Tak tertulis untuk formalitas yang lebih diakui orang 'atas'.
Tapi terijin dengan satu lambaian tangan tak sengaja.
Ketaksengajaan yang berujung goresan itu.
Tajam, pasti.