Sabtu, 23 Agustus 2014

Debu yang bertahan di atas meja


Tidakkah kita seperti debu yang bertahan diatas meja. Menunggu angin membawa kita pergi. Menakuti air yang akan menenggelamkan kita dalam.
Kalau kita begitu rapuh lalu kenapa kita bertahan. Tidakkah bagimu kerapuhan hanya akan menyulitkan. Tidakkah bagimu kepastian lebih tidak menguntungkan.
Kalau kita begitu naif lalu kenapa kita berharap. Tidakkah sesal yang kau pupuk lebih melelahkan.
Kita sering kalah oleh rayuan kita sendiri. Kira sering bertanya tanya kenapa ia tak senyata ketika ia diucapkan.
Tapi kita pura pura bodoh. Kita pura pura tidak mendengarkan.

Senin, 23 Desember 2013

kita

Kamu terlalu laki laki. Dan aku terlalu perempuan. Hal yang membuat kita terluka sangatlah jauh berbeda, mungkin kecuali satu, saat aku atau kamu sama sama tidak lagi dicintai. Itupun belum bisa ku jamin sebanyak persentase.

Aku yang terlalu perempuan itu mungkin terlalu sering menata nata kata, menimang nimang huruf satu persatu. Deret kata manakah yang lebih merdu untuk mengatakan satu rindu setiap kali.

Kamu yang terlalu laki laki malah terlalu sering berpura pura, atau berpura untuk berpura pura lagi untuk kemudian pelan pelan jatuh hati,pun lalu menelannya seolah itu bukan apa apa.

Kita mengarang ngarang keadaan. Keadaan mengarang di atas kita.
Kita manut.
Nurut.

Jumat, 28 September 2012

di atas kereta

Benar,aku sedang diatas kereta yang menujumu. Lalu apa yang kau ingin aku ceritakan? Tentang bekal rindu inikah? - Tadi aku pikir dibalik kaca berteralis ini adalah laut. Tapi uap air yang dikaca itu menceritakan sejarah cinta,mungkinkah itu sebenarnya airmatamu? Menjemput rindu yang tak sengaja kubawa? -semarang,mei 2012,diatas kereta,hujan-

Rabu, 05 September 2012

jika saja aku mampu membaca matamu yang tak sekalipun berkedip memandang

kalau saja kau bisa membaca tanda. atau jika saja aku mampu membaca matamu yang tak sekalipun berkedip memandang. mungkin kita mampu menarik kesimpulan tanpa terlebih dahulu berpura pura lalu terluka. jika saja sewaktu lahir ibu tidak pernah tau tentang dongeng cinderela dan putri salju atau ayah bukanlah seorang buron kehidupan. mungkin aku bisa mencintaimu lebih tulus. mungkin aku bisa menyuguhi mu hidangan 'aku'. dan kita bisa membuat dongeng kita sendiri dan membukukannya sendiri di ingatan lalu memamerkannya ke kehidupan. jika saja mampu kuhitung berapa butir cinta yang mampu kuberikan di kehidupan pertama ini. mungkin aku telah kehabisan peluru, karena semua nya tengah bersarang di jantungmu. tapi kita bukan pendongeng. kita bukan penyair. kita bukan bala kehidupan. kita hanya bagian tidak singkron dari papahan-papahan kecil cerita Tuhan. kita mengarang karangan yang akhir cerita nya telah terlebih dahulu ditentukan. kita mungkin tidak boleh bahagia, karena mungkin kita tidak berperan sebagai si yang bahagia. kita mungkin saja adalah prajurit yang terjatuh ke dalam jurang di balik hutan belum bernama dengan tiga peluru bersarang di dada. atau kita mungkin yang menghitung kembang di tanah lapang dimana tubuh tubuh terdahulu terkubur dingin. atau kita mungkin para penghuni kereta malam. menuju suatu tempat untuk kembali lagi ke kereta yang sama, sekedar melelapkan siang tadi yang terlalu terik, yang terlalu kering di lidah dan terlalu basah di kulit. maka jika saja aku mampu membaca matamu yang tak sekalipun berkedip memandang. kita pasti masih baik-baik saja.

Senin, 20 Agustus 2012

tentang para sepi

Mungkin aku memang tidak normal. Aku terlalu meyakini bahwa hidup memang seharusnya berbelit belit. Bahwa pertemuan selalu ada dan kata selamat tinggal selalu membuntuti dibelakang. Mungkin kamu selama ini benar. Bahwa aku tidak seharusnya membayangkan skenario skenario absurb yang mungkin terjadi. atau bahwa setiap jatuh cinta adalah cinta monyet sehingga semua kisah akan selalu berakhir tidak bahagia. Mungkin sebaiknya kutinggalkan saja hati itu sendirian. Kurasa ia sudah cukup diperolok dan dilukai.pun kau sendiri tau bahwa ia sudah terlalu trauma untuk tidak menangis. Maka memang sebaiknya kutinggalkan saja ia sendiri,si hati yang rapuh itu. Toh ia pun pasti sudah sudah berteman baik dengan para sepi.

Minggu, 01 Juli 2012

akulah, Tuan

akulah, Tuan. yang menciptakan badai pada Adam. yang melumuri jantungnya dengan madu dan wangi kembang. kutoreh hatinya dengan lamban dan dalam. kuukir nama bukan-Mu hingga ia buta. buta pada arah arah dan mata angin. buta pada lagu lagu dan ayat. kugiring ia melintasi lekuk lekuk kulit dimana dibaliknya yang bukan dosa tak pernah ada. kutemani ia menjilati melati hingga tak ada lagi wangi lain yang ia hapal dikepalanya. kini tamparlah aku, Tuan. hempaskan aku ke balik pasir, kubur aku di kedap angin, bakar aku dengan kabut kabut pedih. tapi, Tuan, pertama aku bukanlah apa. merangkakpun aku tak tau cara. Kau papah kedua lenganku hingga mampu ku bentuk tapak tapak mungil di bumi. kini, kukembalikan ia, lenganku itu, papahlah ia. mungkin bumi tak lagi bersedia memunculkan jejak kakinya.

Sabtu, 07 April 2012

Sini, kuceritakan padamu tentang cinta

Padamu aku telah jatuh cinta. Padanya kau pun telah jatuh cinta. Namun seperti kata Harper Lee si penulis tua itu, aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang sesiapapun. aku tidak pernah mengetahui bagaimana dua hati itu dapat saling membaca. Tentang bagaimana kau mencintai wanita yang setitik syurga dapat kau baca darinya, wanita yang cantik dan hati yang lembut luar biasa. Berlebihankah aku mendeskripsikannya? Karena bagiku wanita itu pastilah begitu yang dengan begitu aku mencintaimu yang mencintainya.
Kau tidak pernah percaya bahwa dengan menatapmu aku dapat jatuh cinta berkali-kali. Bahkan dengan mengingat baumu aku telah membendung rindu yang menyesakkan. Namun lucunya kau percaya tentang cinta yang tak mampu kau kurangi seembun pun padanya dan itu membuatku tertawa. Sungguh saat kau ceritakan cerita yang sangat sedikit tentang dirinya, aku merasa mampu mencintainya dengan ketulusan yang sama sepertimu. Kudoakan ia akan kebahagian dan kasih sayang dan agar tak sedikitpun segala sesuatu dapat melukai hati kecilnya.
Saat menuliskan ini aku tengah membongkar kenangan-kenangan yang didalamnya kertas-kertas terlipat tak rapi. Kertas-kertas itu bercerita tentang perjalanan, tentang selamat tinggal, tentangmu dan tentang bukan dirimu. Aku menyukai perjalanan seperti anak kecil yang menyukai coklat dan eskrim. Kunikmati tiap hitungannya sambil mengingat-ingat ingatan-ingatan kecil yang jika kususun sama sekali tak menceritakan apapun. Lalu dedaun, bunga liar dan pohon-pohon berlalu berlarian di luar jendela. Namun awan tetap pada tempatnya yang dari jauh sana melirik terang-terangan ke perjalanan ini. Sesekali ia berubah bentuk dari bentuk yang tak mampu kupecahkan menjadi bentuk yang masih tak bisa kujelaskan. Di suatu titik tiap perjalanan selalu memiliki akhir. Dan setiap akhir itu memulai lagi perjalanan lain dengan cara dan kisah yang nyaris serupa.
Tidakkah menurutmu akhir juga adalah sebuah kata perpisahan? Karena hari itu diam-diam aku mengucapkannya. Kau tidak tau, tentu. Karena kau pun sepertiku, kita sama-sama tidak dapat saling membaca hati. Namun mengingat nya terlalu lucu, betapa aku telah jatuh cinta padamu ribuan kali dan mengulangnya ribuan kali di dalam hati. Lalu di pagi hari yang berembun aku kerap melukiskannya di udara lalu ia menguap ditiup angin tipis siang. Cinta itu menurutku telah menjadi tahap kegilaan. Aku mulai memikirkan melakukan segala sesuatu bersamamu, membayangkan segala rencana dan melibatkanmu di dalamnya, membeli hal-hal dengan mempertimbangkan seleramu, menuliskan puisi-puisi melankolis sambil membayangkan kehadiranmu. Kegilaan ini telah berubah konyol. Kekonyolan ini telah berubah tidak waras.
Menghapus segala ingatan tentangmu sama mudahnya dengan mencintaimu lagi. Kemudahan ini terkadang menjadi begitu rancu. Karena saat diam-diam aku melupakanmu, dengan terang-terangan aku mencintaimu sekali lagi. Tapi tenang saja, aku hanya mencintai saja. Tidak berniat memiliki apapun dari mu. Tidak juga berpikir sedikitpun untuk menyakiti hatinya. Aku mencintaimu dan aku telah mampu mencintainya. Maka pilihan itu begitu sederhana. Kalian akan menuju altar, lalu aku akan baik-baik saja.
Aku mencintaimu. Sungguh itu saja.
Selama berhubungan teman yang kita lakukan tentu tidak lebih romantis dari yang kau dan kekasihmu lakukan, walau terkadang sedikit berlebihan sampai kuyakin jika kekasihmu tau ia akan segera menceraikanmu bahkan sebelum kalian resmi menikah. Hal yang tak lebih romantis itu juga tentu tidak menyisakan kenangan tersendiri bagimu. Mungkin lebih tepatnya hanya sebatas mimpi tak buruk yang paginya pun sudah menghilang dari ingatanmu. Sepertinya aku mendeskripsikan hubungan ini terlalu menyedihkan. Aku takut saat kuceritakan bagian (tak) romantis yang sebenarnya lalu disuatu kesempatan yang kukarang-karang cerita ini ditanyangkan di bioskop, seluruh penonton pasti akan melemparkan popcorn dan soda di tangan mereka ke mukaku yang terpajang di layar karena mereka lebih memihak pada kekasihmu yang luar biasa itu. Dan tentu seperti film kebanyakan cerita ini akan happy ending. Karena taukah kau, cerita ini dari awal telah menjadi figuran dari kisahmu dan dia. Maka tokoh utamanya bukanlah aku. Bukanlah tentang kita. Tapi kalian. Menjadi figuran itu cukup memenuhi adegan-adegan kosong dimana kau dan dia tidak sedang bersama. Namun saat scene utama kau dan dia bercumbu dan sebagainya mungkin aku sedang di belakang layar merapikan kostum atau menebalkan make-up.
*****
Kau akhirnya menikah. Di hari yang pernah kita bicarakan. Dengan kekasihmu yang pernah kau banggakan. Dengan semua rencana pertunangan, dekorasi ruang resepsi, pilihan-pilihan baju pengantin sampai jenis-jenis hidangan yang pernah kita diskusikan. Kau akhirnya menempuh langkah yang selama ini selalu kau ragukan mampu kau jalani. Tapi aku memaksamu. Aku menyuruhmu melakukannya. Dan tidak dengan alas an apapun yang ingin kau menangkan, aku menyeretmu ke langkah paling besar dalam hidupmu, menikahi perempuan yang telah kau janjikan ia sebagai kekasihmu dari beberapa tahun yang lalu. Tidakkah menurutmu perempuan itu telah pantas kau berikan bukti nyata dari komitmen yang dulu pernah kau janjikan padanya? Nikahilah ia,kataku padamu malam itu.
Di hari pernikahanmu yang serba sempurna itu aku yakin senyuman tipismu itu tetap ada. Wajah merekah dan pipi merona dari perempuan itupun pasti cantik sekali. Aku yakin ia akan membuat iri seluruh ruangan sehingga mereka kerap sekali mengatakan betapa beruntungnya kau mendapatkan perempuan secantik dan sesempurna ia. Pihak keluarga, saudara dan semua rekan kalian yang hadirpun akan mendoakan segala hal baik dan segala kesempurnaan sepanjang hidup kalian. Tidakkah hidupmu akan jauh lebih baik setelah ini?
Permainan ini telah terlalu melelahkan. Dan aku kalah. Perjalanan ini tiba-tiba tidak lagi menyenangkan untuk dilanjutkan dan perahu dayungan ini harus mengubah rute perjalanan kearah yang bukan kau. Malam itu kau sibuk menghubungi sampai akhirnya menyerah dan mengirimkan satu pesan singkat, “kau dimana? Kenapa tidak datang? This is my big day!”
Aku penat. Tidakkah kau?
Semoga bahagia.

Jumat, 02 Desember 2011

rail


what did i tell you about this rail?

seseorang pernah mengatakan sesuatu yang ditujukannya bukan untukku juga bukan yang sedang merokok disampingku saat itu. kalau sebuah hubungan itu adalah seperti berjalan di dua rel berpegangan tangan. mereka tidak bisa memikirkan dua tujuan yang berbeda atau di persimpangan rel salah satu terpaksa melepaskan tangan yang lain dan berseberang berjauhan. berjalan sendirian.

Minggu, 02 Oktober 2011

ia bukan Ia

bukankah ia bukan Ia yang mengetahui segala jenis perasaan. ia juga bukan Ia yang mengerti cara mengartikan gerik. ia hanya sebuah sosok yang meraba raba bersama bayangannya, mencoba meniti jalan kecildimana sama sekali tidak ditawarkan satupun pilihan. tidak untuk menyeberang, tidak untuk diam di tempat,tidak juga untuk berjalan lurus kesamping. namun ia memilih pilihan yang tak ada itu dengan diam di tempat, ia hanya terlalu takut melompat dan tidak cukup berani untuk terus berjalan. maka ia diam saja di tempatnya.ia bukanlah Ia yang mampu membekukan hati, karena hatinya yang lemah itu tidak cukup kuat bahkan untuk ia bagi, ia biarkan si hati berjalan jalan di taman menikmati pagi, ia biarkan si hati murung di jendela menilik petang, ia biarkan si hati berubah tua dan mati, ia biarkan si hati merakit sepi yang begitu dalam, ia biarkan si hati menelan air mata yang asin, ia biarkan hatinya berubah kosong.di malam hari saat sunyi mengusai bunyi bunyian, ia mendengar jantungnya berdetak di suatu tempat yang bukan di dadanya.

Selasa, 13 September 2011

pe-frase

#1
Tuan, berikan aku sedikit simpati. Tuan, hadiahkan aku sedikit belas kasih. Tuan, jangan permainkan aku. Aku ini bukan apa-apa Tuan.

#2 [dialog hati dan mata]
-bukankah telah kupersiapkan kau untuk tidak menangis, bangsat!
--brengsek kau
-kau bangsat
--kalau kau tidak jatuh cinta semua akan baik baik saja dari awal
-kau tai
--sekarang kemana perginya harga diri dan cinta yang kau umbar-umbar itu. kau dicampakkan! dasar sampah!
-kubunuh kau
--coba saja kalau kau berani

#3
mungkin kau tidak sadar, karena aku juga baru saja sadar. di akun jejaring sosial yang aku dan kau masuki. ternyata kita terkait dibanyak hal. di akun mu dan akun ku,andai kau perhatikan kolom kiri yang jarang dilirik orang itu ternyata ada daftar keterkaitan antara kau dan aku. kita punya ribuan teman yang sama, masuk ke ratusan komunitas yang sama, dan ada di sejumlah pesta yang sama-sama pernah kita hadiri, dan sejumlah pesta lainnya yang dalam waktu dekat akan kita hadiri. tidakkah hal ini aneh. kita sama sekali tidak dekat.

Rabu, 31 Agustus 2011

keping-keping cerita

#1
saat aku memutuskan menyerah memikirkan apakah mencintaimu adalah hal yang tepat. atau apakah mencintaimu adalah hal yang seharusnya. atau apakah mencintaimu adalah boleh. saat aku memutuskan menyerah, hal-hal kecil yang sebelumnya tak kuperhatikan tiba-tiba begitu menarik untuk disimak. tiba-tiba aku menyadari warna jendela kamar yang telah kutiduri lebih dari enam bulan. aku memutarkan kembali lagu-lagu yang sebelumnya telah kuhilangkan dari playlist. aku menulis cerita fiksi dan puisi. menerima segala pertemanan di situs jejaring sosial, dan ikut berkometar dalam hal-hal tak penting yang dibicarakan orang. aku kembali beresolusi. memikirkan tempat-tempat asing yang ingin kukunjungi. mengeja mimpi-mimpi yang begitu ingin kumimpikan saat tidur. lalu aku mulai menyadari kehadiran yang bukan dirimu.

#2
hal-hal yang kuingat tentangmu hanya hal-hal sederhana. tentang potongan kue coklat, tentang gantungan kunci. tentang soda. tentang malam. tentang rasi bintang. tentang cerita-cerita pendek. tentang puisi-puisi cengeng. tentang pesan-pesan singkat yang tak pernah terkirim. lalu tentang ucapan selamat tinggal.
hal-hal yang kuingat tentangmu hanya hal-hal sederhana. yang kuingat sendirian.

Selasa, 23 Agustus 2011

johny-craig david (dont know why,i just love this song)

"Johnny"



[Verse 1:]
It's another day at school and he's just walking out the door
Got his ruck sack on his back and his feet dragging on the floor
Always late, but when he's questioned he can't think of what to say
Hides the bruises from the teachers hoping that they go away
Even though his mom and dad they both got problems of their own
Caught in a catch 22 but he'd still rather be at home
Crys himself to sleep and prays when he wakes up things might have changed
But everythings still the same

(But didn't you say) You always said that I should speak up, Mmm....
But it seems like all the things you said to me before mean nothing at all
Because...

[Chorus:]
I keep telling you that Johnny's hitting me
Thats why I'm late for school (but you never listen)
Instead you always seem to end up blaming me for things I didn't do (For what it's worth)
I didn't even want to tell you anything incase it made things worse (Just so you know)
Every time I say that Johnny's hitting me
Hey Mom and Dad it hurts

[Verse 2:]
Everyday keeps on repeating like the record on replay
Slowly getting off the bus with Johnny waiting at the gates
Like a friend smiling and waiveing and called him out his name
Put his arm around his neck whats up now gimme all your change
Too afraid to make a scene or plead with him to let him go
He just takes whatevers coming, feels the pain with every blow
Trys in vain to make himself be heard as soon as he gets home
But everythings still the same...

(But didn't you say) You always said that I should speak up, Mmm....
But it seems like all the things you said to me before mean nothing at all
Because...

[Chorus:]
I keep telling you that Johnny's hitting me
Thats why I'm late for school (but you never listen)
Instead you always seem to end up blaming me for things I didn't do (For what it's worth)
I didn't even want to tell you anything incase it made things worse (Just so you know)
Every time I say that Johnny's hitting me
Hey Mom and Dad it hurts

[Bridge:]
You always said that I should speak up, Mmm...
And to never be afraid to come and tell you if I needed to talk (If I needed to talk, Yeah)
Well I don't know the meaning of love, Mmm...
Cause it seems like all the things you said to me before mean nothing at all

(Mean nothing at all)
Because....

[Chorus 3x (Fade Out):]
I keep telling you that Johnny's hitting me
Thats why I'm late for school (but you never listen)
Instead you always seem to end up blaming me for things I didn't do (For what it's worth)
I didn't even want to tell you anything incase it made things worse (Just so you know)
Every time I say that Johnny's hitting me
Hey Mom and Dad it hurts

Kamis, 04 Agustus 2011

happy birthday

memikirkan ulang tahun hampir sama dengan memikirkan pakaian lebaran yang masih dua bulan lagi. menerka nerka hadiah seperti apa yang akan membuatmu merasa berarti. membuatmu bahagia. sebentuk perhiasankah? sebuah bonekakah? atau barang barang antik yang mungkin akan berakhir menjadi pajangan pajangan berdebu dirumah mu yang lengang. atau haruskah tidak memberimu apa apa tapi sebuah kecup panjang dan dongeng tidur tepat di malam pergantian umur itu. atau apa aku berpura pura tidak peduli saja dan cukup mengirimkan pesan pesan elektronik dan doa doa simpul seperti panjang umur dan berbahagia.

apapun itu. tanpa pergantian umur pun. tanpa perlu tanda tanda dan pergantian tanggal pun. kau tetap segalanya. kau adalah yang menyesakkan ruang di hati ku yang mungil. kau debar yang berdetak di sudut jantungku yang lemah. kau adalah senyuman senyuman simpul yang tak mampu kukendalikan. kau adalah rasa rindu yang berkepanjangan. kau adalah definisi cinta yang dipertanyakan para penyair itu. i love you.

Minggu, 08 Mei 2011

Dongeng

pernahkah kukatakan padamu tentang jalan yang berliku. tentang pohon-pohon yang menghalangi jalan-jalan setapak. tentang kerikil-kerikil kecil yang membuatmu tersandung. tentang cerita-cerita tak lucu yang membuatmu tertawa. tentang hari-hari yang sama sekali tidak pernah cerah. tentang diam yang telah terlalu sering menjadi spasi di sela-sela pertemuan dan perpisahan. tentang dentangan gelas dan piring saat makan malam. tentang alasan-alasan yang tidak lagi masuk akal karena telah terlalu sering kita pergunakan. tentang mimpi-mimpi yang tak pernah ada, karena secara nyata kita sama sekali tidak melakukan mimpi. tentang malam-malam yang berdoa memunculkan bintang hingga waktu lebih lama berlalu. tentang entah apa yang tak mampu kulukiskan satu persatu.

pernahkah kuceritakan padamu tentang semua itu. sini mari kemari sayang,
akan ku dongengkan untukmu.

Rabu, 27 April 2011

Barat

:Sapardi Djoko Damono

kau menyukai barat sampai seolah tak ada lagi tempat yang lain bagimu mengadu. saat bangun di pagi hari kau mengikuti bayanganmu memberi salam pada barat.
di sore hari kau sudah terlalu lelah, kau tinggalkan bayanganmu rebah sendirian di belakang, lalu kau tundukkan kepalamu memberi salam kedua.
malam hari kau tidak ingin kemana saja. kau tidak menyukai yang diluar itu saat malam.
kau menuruni tangga, duduk dengan gelas dan koran yang tak kau sentuh di ruang tamu, melirik lukisan miring, menunggu ketukan asing di pintu. tepat sebelum fajar kau terlelap. di mimpimu kau bergandengan dengan barat tanpa sempat memikirkan bayanganmu yang menghilang. kau begitu bahagia hingga lupa kau pada kertas-kertas buram sajakmu, kau lupa pada air mata hujan yang kau tangisi di ujung juni, kau lupa pada ikan-ikan kecil yang menemanimu menegun kabut di kolam belakang rumah. kau tidak peduli lagi semua apa-apa yang mesti kau ingat.
kau terus menuju barat. sekalipun tidak menoleh ke belakang.

Sabtu, 23 April 2011

kau

kau tidak akan percaya jika kukatakan betapa sebenarnya aku berada di ambang kesepian. tapi kau pasti percaya saat ku katakan bahwa akupun membenci rasa sepi. saat kita bercerita tentang hal-hal yang kau tau,aku lebih cenderung menatap wajahmu yang kaku dan menganggukkan kepala sedikit agar kau masih menyangka aku sedang mendengarkanmu.
semua hal yang kau tau yang kau katakan padaku adalah hal yang pernah ku baca dalam sebuah situs atau kudengar dari gurauan-gurauan kecil guru mengajiku dulu. semua hal yang kau katakan itu pernah ku rekam baik dalam kepalaku sampai ku untaikan lewat doa-doa panjang malam hari. semua hal yang kau katakan itu bukan lagi hal asing yang menarik dibicarakan. tapi aku menyukaimu bercerita. aku menyukaimu yang membuatku mendengarkan.

mungkin kau menjadi heran. karena setelah cerita kesekian,dan setelah anggukan ku yang kesekian, kau tak kunjung mendapatkan balasan kata dan argumen yang pas, yang menurut mu dapat membuat pembicaraan ini lebih menarik dan lebih panjang. aku tau apa yang setelah itu kau simpulkan. karena setelah kupikirkan kau langsung mengatakannya,"kau tidak suka membaca ya?"

kau yang suka menyimpulkan hal itu ternyata tidak cukup pintar membaca pikiran dan mimik. karena saat kau bertanya aku tidak berhasil menemukan kalimat jawaban yang tepat agar kau tidak salah sikap dan lebih parah lagi salah sangka. sehingga aku tetap menatap hujan yang kebetulan turun di luar pintu sambil tersenyum.

kau menyukai hal yang tidak pernah kuperhatikan--alih-alih mengatakan aku tidak suka--. dan aku menyukai hal yang tidak pernah kau pikirkan. kita saling tidak pernah membicakan hal yang membedakan itu. kita justru membicarakan hal lain yang juga bukan sebuah kesamaan. lalu kenapa kita dapat saling berbicara? nanti saja kita putuskan.

Rabu, 30 Maret 2011

unfamiliar

there's nothing familiar about this.
unfamiliar.

the way you wrap ur mind to get know the answer of no question, you got supprise that u found nothing comming out into the table.

u stuck. u locked. u're searching for no key.
u're hoping for morning comming faster so when u woke up u can sleep again.

Selasa, 22 Maret 2011

Percakapan

Dibalik kata-kata saat kita saling bertegur sapa dan saling bercerita tentang apa saja, kita tak lagi mampu mendengarkan dan tak mampu lagi saling membalas teguran. Karena masing-masing kita pun sibuk mendengarkan pikiran-pikiran kita yang diam atau kita terlalu senang menyimak diam yang sering timbul di sela percakapan.

Setiap kita juga sadar, tidak satu cerita pun sebenarnya yang berhasil kita rekam dengan baik, karena setiap kita sibuk menyusun cerita berikutnya dan sibuk menunggu kapan cerita ini berakhir.

Di percakapan lain di pertemuan yang lain, kita ceritakan kembali cerita kemarin dengan semangat yang sama dan dengan cara yang sama kita dengarkan yang tidak terceritakan.

Saat mengakhiri percakapan kita mengucapkan selamat jalan. Berharap bertemu lagi dalam waktu dekat yang saling tidak kita pikirkan.

Love

I wanna know, than i could speaking up about you. I wanna smile every second i think about you. The way you walk, you smile, you laugh, you speak, you move.

I wanna get that close so i can smell your heart. I wanna keep this wind so we can breath from the same air.
I wanna do anything that is worth love.
And i wanna love you.